Selamat Datang di Blog Hidup Sehat....

Senin, 14 November 2011

Diaper Rash

PENGERTIAN
Diaper rash adalah istilah umum pada beberapa iritasi kulit yang berkembang pada daerah yang tertutup popok. Sinonim termasuk diaper dermatitis, napkin (atau “nappy) dermatitis dan dermatitis ammonia. Selain itu ada kategori luas yang berat yang menyebabkan diaper rash, iritasi kontak adalah yang paling banyak terjadi.
Penyakit-penyakit ini dapat dibagi secara konseptual ke dalam 3 sub, antara lain :
·         Ruam yang secara langsung atau tidak langsung disebabkan oleh penggunaan popok. Kategori ini termasuk dermatosis, Seperti dermatitis kontak iritan, miliaria, intertrigo, dermatitis diaper kandida dan granuloma gluteal infantum
·         Ruam yang muncul ditempat lain tetapi dapat menyebar ke daerah paha yang teriritasi selama memakai popok. Kategori ini termasuk dermatitis atopik, Dermatitis seboroik dan psoriasis
·         Ruam yang muncul pada daerah popok yang tidak disebabkan oleh penggunaan popok. Kategori ini terdiri dari ruam yang berhubungan dari impetigo bullosa, sel histiosit Langerhans, acrodermatitis enteropathica (defisiensi zinc), sifilis congenital, scabies dan HIV. 

EPIDEMIOLOGI
Diaper rash paling banyak terjadi pada bayi. Prevalensi bervariasi dilaporkan dari 4-35% pada 2 tahun pertama kehidupan. Dermatitis atopik dan diaper dermatitis lebih sering terjadi di daerah Amerika dan Afrika. Tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Diaper rash dapat bermula pada periode neonatus segera setelah anak memakai popok. Insiden tertinggi pada umur 7-12 bulan, menurun sesuai umur.
Diaper rash berhenti setelah anak mendapatkan latihan toilet, biasanya sekitar umur 2 tahun.2,5 
ETIOLOGI
Diaper rash dapat disebabkan oleh beberapa hal di bawah ini, yaitu :
1.      Gesekan, penggunaan popok atau pakaian yang ketat akan sering tergesek dengan kulit sehingga  menyebabkan ruam.
2.      Iritasi dari feses dan urine. Paparan urin dan feses yang lama dapat mengiritasi kulit bayi yang sensitif. Bayi lebih cepat terkena diaper rash bila mengalami pergerakan usus yang sering, karena feses lebih mengiritasi daripada urine.
3.      Pengenalan makanan baru. Bayi mulai makan makanan padat atau diperkenalkan makanan baru,umumnya ketika berumur antara 4-12 bulan, komposisi fesesnya berubah, kemungkinan meningkatkan resiko diaper rash.
4.      Infeksi bakteri atau jamur. Dimulai sebagai infeksi kulit yang bisa menyebar sampai ke daerah sekitarnya. Daerah yang tertutup seperti pantat, paha, dan genital khususnya yang mudah terserang karena hangat dan lembab membuat bakteri dan jamur tumbuh subur.
5.      Kulit sensitif. Bayi-bayi dengan kondisi kulit seperti dermatitis atopik atau eksema, kemungkinan dapat berkembang menjadi diaper rash. Namun, iritasi kulit dari dermatitis atopik dan eksema biasanya tidak hanya mempengaruhi daerah tertutup popok.
6.      Penggunaan antibiotik. Antibiotik dapat membunuh bakteri, baik flora normal maupun bakteri patogen.
Ketidakseimbangan kedua bakteri ini, dapat menyebabkan infeksi jamur. Ini dapat terjadi ketika bayi mengkonsumsi antibiotik atau pemberian ASI oleh ibu yang mengkonsumsi antibiotik.

PATOGENESIS
Iritan utama dari situasi ini adalah enzim protease dan lipase pada feses yang aktivitasnya meningkat secara tajam oleh peningkatan pH. Keasaman permukaan kulit juga penting untuk mempertahankan mikroflora normal yang memberi proteksi antimicroba pertama dalam melawan invasi oleh bakteri dan jamur patogen. Aktivitas protease dan lipase feses juga meningkat oleh percepatan melintasi gastrointestinal, ini alasan untuk tingginya insiden dermatitis diaper iritan pada bayi yang diare kurang dari 48 jam
Penggunaan popok menyebabkan peningkatan yang jelas pada kelembaban kulit dan pH kulit. Kelembaban yang lama dapat menyebabkan maserasi stratum korneum, lapisan luar, lapisan proteksi kulit, yang berhubungan dengan kerusakan yang luas pada lapisan lipid intraseluler. Kelemahan integritas fisik membuat stratum korneum lebih mudah terkena kerusakan oleh gesekan permukaan popok dan iritasi lokal. Kulit bayi merupakan barier efektif penyakit dan sama halnya pada kulit dewasa dengan memperhatikan permeabilitas kulit. Tetapi, kelembaban, kekurangan paparan udara, keasaman atau paparan iritan, dan meningkatnya gesekan kulit merusak barrier kulit. Kulit mempunyai pH normal antara 4,5 sampai 5,5. Ketika urea dari urin dan feses bercampur, urease mengurai urin, menurunkan konsentrasi ion hidrogen (meningkatkan pH). Peningkatan nilai pH meningkatkan hidrasi kulit dan membuat kulit lebih permeabel. Sebelumnya, ammonia dipercaya sebagai penyebab primer diaper dermatitis. Penelitian baru-baru ini menyangkal hal ini, menunjukkan bahwa ketika ammonia atau urin ditempatkan pada kulit selama 24-48 jam, kerusakan kulit tidak terjadi.
 

GAMBARAN KLINIS
Iritasi primer dari dermatitis popok tidak selalu terlihat pada 3 minggu pertama kelahiran. Paling  sering terjadi pada minggu ketiga sampai minggu keduabelas, dan puncak prevalensinya terlihat antara bulan ketujuh dan keduabelas. Bentuk yang paling sering dijumpai pada dermatitis popok iritan primer pada daerah yang tertutup popok, yaitu pantat, genitalia, lower abdomen dan daerah pubis, dan paha atas.
Bagian yang lebih dalam pada lipatan paha umumnya tidak terkena.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.      Pemeriksaan Laboratorium
Tes laboratorium sebaiknya dilakukan berdasarkan gambaran klinik dan frekuensi kejadian. Pemeriksaan darah lengkap dapat membantu, khususnya jika pasien demam dan dicurigai terjadi infeksi bakteri sekunder. Adanya anemia berhubungan dengan hepatosplenomegali dan sebaiknya didiagnosa sel histiosit Langerhans atau sifilis kongenital. Jika dicurigai dermatitis kontak, patch test dapat membantu. Pemeriksaan serologi seperti jumlah zinc, tes Veneral Disease Research Laboratory (VDRL), jumlah sel darah, atau kimia darah yang berhubungan dengan penyakit dasarnya. Jumlah zinc serum yang kurang dari 50 mcg/dL dapat didiagnosa acrodermatitis enterohepatica.
b.      Pemeriksaan Histologi
Biopsi untuk preparat histologi dapat memberikan informasi yang benar untuk diagnosis.
Gambaran umum histologi pada dermatitis iritan primer dengan spongiosis epidermal
dan inflamasi ringan berubah pada dermis.
 c.       Pemeriksaan Lain
Kerokan kalium hidroksida (KOH) dari lesi papul atau pustul bisa menunjukkan pseudohifa pada kasus yang dicurigai kandidiasis. Ditemukannya tungau, ova, atau feses pada preparat mineral oil dari liang kerokan dapat menegakkan diagnosis scabies.
 
DIAGNOSIS
Diagnosis awal diaper rash dibuat dengan inspeksi kulit pada daerah popok. Adanya lesi kulit pada daerah tersebut mengartikan bahwa bayi tersebut mengalami diaper rash.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar